<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abu Salman</title>
	<atom:link href="http://salmannawwaf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmannawwaf.wordpress.com</link>
	<description>Belajar Meniti di Atas Sunnah......</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Oct 2010 01:14:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salmannawwaf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9c2a29666c8c4d8c64b2e08168f24536?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Abu Salman</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salmannawwaf.wordpress.com/osd.xml" title="Abu Salman" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salmannawwaf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Khawarij Kelompok Sesat Pertama Dalam Islam (lanjutan)</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/10/02/khawarij-kelompok-sesat-pertama-dalam-islam-lanjutan/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/10/02/khawarij-kelompok-sesat-pertama-dalam-islam-lanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 01:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanakah Madzhab Mereka? Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, madzhab mereka adalah tidak berpegang dengan As Sunnah wal Jamaah, tidak mentaati pemimpin (pemerintah kaum muslimin, pen), berkeyakinan bahwa memberontak terhadap pemerintah dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin merupakan bagian dari agama. Hal ini menyelisihi apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah r agar senantiasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=120&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimanakah Madzhab Mereka?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, madzhab mereka adalah tidak berpegang dengan As Sunnah wal Jamaah, tidak mentaati pemimpin (pemerintah kaum muslimin, <em>pen</em>), berkeyakinan bahwa memberontak terhadap pemerintah dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin merupakan bagian dari agama.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-120"></span>Hal ini menyelisihi apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah r agar senantiasa mentaati pemerintah (dalam hal yang ma’ruf/ yang tidak bertentangan dengan syariat), dan menyelisihi apa yang telah diperintahkan oleh Allah I dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian.”</em> (An-Nisa: 59)<br />
Allah I dan Nabi-Nya r menjadikan ketaatan kepada pemimpin sebagai bagian dari agama… Mereka (Khawarij) menyatakan bahwa pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) telah kafir, tidak diampuni dosa-dosanya, kekal di neraka. Dan ini bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam Kitabullah (Al Qur’an). (<strong>Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah</strong>, hal. 31-33)<br />
Al-Hafidz Ibnu Hajar t berkata: “Mereka berkeyakinan atas kafirnya ‘Utsman bin ‘Affan z dan orang-orang yang bersamanya. Mereka juga berkeyakinan sahnya kepemimpinan ‘Ali z (sebelum kemudian dikafirkan oleh mereka, <em>pen</em>) dan kafirnya orang-orang yang memerangi ‘Ali z dari Ahlul Jamal.”<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-admin/#_ftn1">[1]</a> (<strong>Fathul Bari</strong>, 12/296)<br />
Al-Hafidz t juga berkata: “Kemudian mereka berpendapat bahwa siapa saja yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka, maka ia kafir, halal darah, harta dan keluarganya.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 12/297)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Peperangan antara Khawarij dan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh, maka orang-orang Khawarij ini bergabung dengan pasukan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib. Dalam setiap pertempuran pun mereka selalu bersamanya. Ketika terjadi pertempuran Shiffin (tahun 38 H) antara pasukan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib dengan pasukan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari penduduk Syam yang terjadi selama berbulan-bulan -dikarenakan ijtihad mereka masing-masing-, ditempuhlah proses tahkim (pengiriman seorang utusan dari kedua pihak guna membicarakan solusi terbaik bagi masalah yang sedang mereka alami).<br />
Orang-orang Khawarij tidak menyetujuinya, dengan alasan bahwa hukum itu hanya milik Allah dan tidak boleh berhukum kepada manusia. Demikian pula tatkala dalam naskah ajakan tahkim dari ‘Ali bin Abu Thalib termaktub: “Inilah yang diputuskan oleh Amirul Mukminin ‘Ali atas Mu’awiyah…” lalu penduduk Syam tidak setuju dengan mengatakan, “Tulislah namanya dan nama ayahnya,” (tanpa ada penyebutan Amirul Mukminin). ‘Ali pun menyetujuinya, namun orang-orang Khawarij pun mengingkari persetujuan itu.<br />
Setelah disepakati utusan masing-masing pihak yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dari pihak ‘Ali dan ‘Amr bin Al-‘Ash dari pihak Mu’awiyah, dan disepakati pula waktu dan tempatnya (Dumatul Jandal), maka berpisahlah dua pasukan tersebut. Mu’awiyah kembali ke Syam dan ‘Ali kembali ke Kufah, sedangkan kelompok Khawarij dengan jumlah 8.000 orang atau lebih dari 10.000 orang, atau 6.000 orang, memisahkan diri dari ‘Ali dan bermarkas di daerah Harura yang tidak jauh dari Kufah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pimpinan mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ Al-Yasykuri dan Syabats At-Tamimi. Maka ‘Ali mengutus shahabat Abdullah bin ‘Abbas ct untuk berdialog dengan mereka dan banyak dari mereka yang rujuk. Lalu , ‘Ali  t keluar menemui mereka, maka mereka pun akhirnya menaati ‘Ali  t dan ikut bersamanya ke Kufah, bersama dua orang pimpinan mereka. Kemudian mereka membuat isu bahwa ‘Ali t telah bertaubat dari masalah tahkim, karena itulah mereka kembali bersamanya. Sampailah isu ini kepada ‘Ali t, lalu ia berkhutbah dan mengingkarinya. Maka mereka pun saling berteriak dari bagian samping masjid (dengan mengatakan): “Tiada hukum kecuali untuk Allah.” ‘Ali t  pun menjawab: “Kalimat yang haq (benar) namun yang dimaukan dengannya adalah kebatilan!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ‘Ali t berkata kepada mereka: “Hak kalian yang harus kami  penuhi ada tiga: Kami tidak akan melarang kalian masuk masjid, tidak akan melarang kalian dari rizki <em>fai’</em>, dan tidak akan pula memulai penyerangan selama kalian tidak berbuat kerusakan.”<br />
Secara berangsur-angsur pengikut Khawarij akhirnya keluar dari Kufah dan berkumpul di daerah Al-Madain. ‘Ali t senantiasa mengirim utusan agar mereka rujuk. Namun mereka tetap bersikeras menolaknya hingga ‘Ali t mau bersaksi atas kekafiran dirinya dikarenakan masalah tahkim atau  bertaubat. Lalu ‘Ali t mengirim utusan lagi (untuk mengingatkan mereka) namun justru utusan tersebut hendak mereka bunuh dan mereka bersepakat bahwa yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka maka dia kafir, halal darah dan keluarganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aksi mereka kemudian berlanjut dalam bentuk fisik, yaitu menghadang dan membunuh siapa saja dari kaum muslimin yang melewati daerah mereka. Ketika Abdullah bin Khabbab bin Al-Art -yang saat itu menjabat sebagai salah seorang gubernur ‘Ali bin Abu Thalib t- berjalan melewati daerah kekuasaan Khawarij bersama budak wanitanya yang tengah hamil, maka mereka membunuhnya dan merobek perut budak wanitanya untuk mengeluarkan anak dari perutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampailah berita ini kepada ‘Ali t, maka ia pun keluar untuk memerangi mereka bersama pasukan yang sebelumnya dipersiapkan ke Syam. Dan akhirnya mereka berhasil ditumpas di daerah Nahrawan beserta para gembong mereka seperti Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi, Zaid bin Hishn At-Tha’i, dan Harqush bin Zuhair As-Sa’di. Tidak selamat dari mereka kecuali kurang dari 10 orang dan tidaklah terbunuh dari pasukan ‘Ali kecuali sekitar 10 orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sisa-sisa Khawarij ini akhirnya bergabung dengan simpatisan madzhab mereka dan sembunyi-sembunyi semasa kepemimpinan ‘Ali t, hingga salah seorang dari mereka yang bernama Abdurrahman bin Muljim berhasil membunuh ‘Ali t  yang saat itu sedang melakukan shalat Shubuh.  (diringkas dari <strong>Fathul Bari</strong> karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t, 12/296-298, dengan beberapa tambahan dari <strong>Al-Bidayah wan Nihayah</strong>, karya Al-Hafidz Ibnu Katsir, 7/281)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kafirkah Khawarij?</strong><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kafirnya Khawarij masih diperselisihkan di kalangan ulama. Al-Hafidz Ibnu Hajar t berkata: “Sebagian besar ahli ushul dari Ahlus Sunnah berpendapat bahwasanya Khawarij adalah orang-orang fasiq, dan hukum Islam berlaku bagi mereka. Hal ini dikarenakan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan selalu melaksanakan rukun-rukun Islam. Mereka dihukumi fasiq, karena pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin berdasarkan takwil (penafsiran) yang salah, yang akhirnya menjerumuskan mereka kepada keyakinan akan halalnya darah, dan harta orang-orang yang bertentangan dengan mereka, serta persaksian atas mereka dengan kekufuran dan kesyirikan.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 12/314)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Al-Khaththabi t berkata: “Ulama kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya Khawarij dengan segala kesesatannya tergolong firqah dari firqah-firqah muslimin, boleh menikahi mereka, dan memakan sembelihan mereka, dan mereka tidak dikafirkan selama masih berpegang dengan pokok keislaman.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 12/314)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Ibnu Baththal t berkata: “Jumhur ulama berpendapat bahwasanya Khawarij tidak keluar dari kumpulan kaum muslimin.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 12/314)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebab-sebab yang Mengantarkan Khawarij kepada Kesesatan<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata: “Yang demikian itu disebabkan kebodohan mereka tentang agama Islam, bersamaan dengan <em>wara’</em>, ibadah dan kesungguhan mereka. Namun tatkala semua itu (<em>wara’</em>, ibadah, dan kesungguhan) tidak berdasarkan ilmu yang benar, akhirnya menjadi bencana bagi mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah</strong>, hal. 35)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikan pula, mereka enggan untuk mengambil pemahaman para shahabat (As-Salafush Shalih) dalam memahami masalah-masalah din ini, sehingga terjerumuslah mereka ke dalam kesesatan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Anjuran Memerangi Mereka</strong><a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-admin/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah r bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka jika kalian mendapati mereka (Khawarij-pen), perangilah mereka! Karena sesunggguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”</em> (<strong>Shahih, HR. Muslim</strong> dalam Shahih-nya, 2/747, dari shahabat ‘Ali bin Abu Thalib z).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau r juga bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum ‘Aad.”</em> (<strong>Shahih, HR. Muslim</strong> dalam Shahih-nya, 2/742, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam lafadz yang lain beliau r bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُودَ.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika aku mendapati mereka, benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum Tsamud.”</em> (<strong>Shahih, HR. Muslim</strong> dalam Shahih-nya, 2/742, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Ibnu Hubairah berkata: “Memerangi Khawarij lebih utama dari memerangi orang-orang musyrikin. Hikmahnya, memerangi mereka merupakan penjagaan terhadap ‘modal’ Islam (kemurnian Islam -<em>pen</em>), sedangkan memerangi orang-orang musyrikin merupakan ‘pencarian laba’, dan penjagaan modal tentu lebih utama.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 12/315)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Samakah Musuh-musuh ‘Ali bin Abu Thalib dalam Perang Jamal dan Shiffin dengan Khawarij?</strong><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang menyatakan bahwa musuh-musuh ‘Ali bin Abu Thalib z sama dengan Khawarij ini tentunya tidak benar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Adapun jumhur ahli ilmu, mereka membedakan antara orang-orang Khawarij dengan Ahlul Jamal dan Shiffin, serta selain mereka yang terhitung sebagai penentang dengan berdasarkan ijtihad. Inilah yang ma’ruf dari para shahabat, keseluruhan ahlul hadits, fuqaha, dan mutakallimin. Di atas pemahaman inilah, nash-nash mayoritas para imam dan pengikut mereka dari murid-murid Malik, Asy-Syafi’i, dan selain mereka.” (<strong>Majmu’ Fatawa</strong>, 35/54)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nasehat dan Peringatan</strong><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Madzhab Khawarij ini sesungguhnya terus berkembang (di dalam merusak aqidah umat) seiring dengan bergulirnya waktu. Oleh karena itu Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menasehatkan: “Wajib bagi kaum muslimin di setiap masa, jika terbukti telah mendapati madzhab yang jahat ini untuk mengatasinya dengan dakwah dan penjelasan kepada umat tentangnya. Jika mereka (Khawarij) tidak mengindahkannya, hendaknya kaum muslimin memerangi mereka dalam rangka membentengi umat dari kesesatan mereka.” (<strong>Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah</strong>, hal. 37)<br />
Wallahu a’lam bish shawab.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align:justify;">Majalah Asy-Syari’ah Vol I/No. 04/Desember 2003/Syawwal 1424 H</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=138">http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=138</a></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Ahlul Jamal adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah, Az-Zubair bin Al-‘Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan orang-orang yang bersama mereka yang menuntut dihukumnya para pembunuh ‘Utsman bin ‘Affan t, setelah mereka membai’at ‘Ali bin Abu Thalib t. (<em>pen</em>)<a title="_ftn2" name="_ftn2" href="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-admin/#_ftnref2">[</a><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-admin/#_ftnref2">2]</a> Adapun memerangi mereka bukanlah urursan perseorangan atau kelompok tertentu namun di bawah naungan pemerintah, sebagaimana dijelaskan para ulama tentang aturannya dalam buku-buku fiqih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=120&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/10/02/khawarij-kelompok-sesat-pertama-dalam-islam-lanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khawarij Kelompok Sesat Pertama Dalam Islam</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/10/02/khawarij-kelompok-sesat-pertama-dalam-islam/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/10/02/khawarij-kelompok-sesat-pertama-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 01:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Laa hukma illa lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah). Kata-kata ini haq adanya, karena merupakan kandungan ayat yang mulia. Namun jika kemudian ditafsirkan menyimpang dari pemahaman salafush shalih, kebatilanlah yang kemudian muncul. Bertamengkan kata-kata inilah, Khawarij, kelompok sempalan pertama dalam Islam, dengan mudahnya mengkafirkan bahkan menumpahkan darah kaum muslimin. Siapakah Khawarij? Asy-Syaikh Dr. Shalih bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=117&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Laa hukma illa lillah</em> (tiada hukum kecuali untuk Allah). Kata-kata ini haq adanya, karena merupakan kandungan ayat yang mulia. Namun jika kemudian ditafsirkan menyimpang dari pemahaman salafush shalih, kebatilanlah yang kemudian muncul. Bertamengkan kata-kata inilah, Khawarij, kelompok sempalan pertama dalam Islam, dengan mudahnya mengkafirkan bahkan menumpahkan darah kaum muslimin.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-117"></span><strong>Siapakah Khawarij?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata: “Mereka adalah orang-orang yang memberontak terhadap pemerintah di akhir masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan z yang mengakibatkan terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan z. Kemudian di masa kepemimpinan ‘Ali bin Abu Thalib z, keadaan mereka semakin buruk. Mereka keluar dari ketaatan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib z, mengkafirkannya, dan mengkafirkan para shahabat. Ini disebabkan para shahabat tidak menyetujui madzhab mereka. Dan mereka menghukumi siapa saja yang menyelisihi madzhab mereka dengan hukuman kafir. Akhirnya mereka pun mengkafirkan makhluk-makhluk pilihan yaitu para shahabat Rasulullah r.” (<strong>Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah</strong>, hal. 31)</p>
<p style="text-align:justify;">Cikal bakal mereka telah ada sejak jaman Rasulullah r. Diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z, ia berkata: Ketika kami berada di sisi Rasulullah r dan beliau sedang membagi-bagi (harta), datanglah Dzul Khuwaisirah dari Bani Tamim, kepada beliau. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!” Rasulullah r pun bersabda: “Celakalah  engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”</p>
<p style="text-align:justify;">Maka ‘Umar bin Al- Khaththab z berkata: “Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya!” Rasulullah r berkata: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari <em>ar-ramiyyah</em>, dilihat <em>nashl</em>-nya (besi pada ujung anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat <em>rishaf</em>-nya (tempat masuknya <em>nashl</em> pada anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat <em>nadhiy</em>-nya (batang anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat <em>qudzadz</em>-nya (bulu-bulu yang ada pada anak panah) maka tidak didapati pula bekasnya. Anak panah itu benar-benar dengan cepat melewati lambung dan darah (hewan buruan itu). Ciri-cirinya, (di tengah-tengah mereka) ada seorang laki-laki hitam, salah satu lengannya seperti payudara wanita atau seperti potongan daging yang bergoyang-goyang, mereka akan muncul di saat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin.”</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Sa’id Al-Khudri z berkata: “Aku bersaksi bahwa aku mendengarnya dari Rasulullah r dan aku bersaksi pula bahwa ‘Ali bin Abu Thalib z yang memerangi mereka dan aku bersamanya. Maka ‘Ali z memerintahkan untuk mencari seorang laki-laki (yang disifati oleh Rasulullah r, di antara mayat-mayat mereka) dan ditemukanlah ia lalu dibawa (ke hadapan ‘Ali), dan aku benar-benar melihatnya sesuai dengan ciri-ciri yang disifati oleh Rasulullah r.” (<strong>Shahih, HR. Al-Imam Muslim</strong> dalam <strong>Shahih</strong>-nya, <strong>Kitabuz Zakat</strong>, bab Dzikrul Khawarij wa Shifaatihim, 2/744)</p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syihristani t berkata: “Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi’in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa.” (<strong>Al-Milal wan Nihal</strong>, hal. 114)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengapa Disebut Khawarij?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Dinamakan Khawarij dikarenakan keluarnya mereka dari jamaah kaum muslimin. Dikatakan pula karena keluarnya mereka dari jalan (manhaj) jamaah kaum muslimin, dan dikatakan pula karena sabda Rasulullah r:</p>
<p style="text-align:justify;">يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Akan keluar dari diri orang ini…”</em> (<strong>Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin Al-Hajjaj</strong>, 7/145)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t berkata: “Dinamakan dengan itu (Khawarij) dikarenakan keluarnya mereka dari din (agama) dan keluarnya mereka dari ketaatan terhadap orang-orang terbaik dari kaum muslimin.” (<strong>Fathul Bari Bisyarhi Shahihil Bukhari</strong>, 12/296)</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka juga biasa disebut dengan Al-Haruriyyah karena mereka (dahulu) tinggal di Harura yaitu sebuah daerah di Iraq dekat kota Kufah, dan menjadikannya sebagai markas dalam memerangi Ahlul ‘Adl (para shahabat Rasulullah r). (<strong>Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin Al-Hajjaj</strong>, 7/145)</p>
<p style="text-align:justify;">Disebut pula dengan <em>Al-Maariqah</em> (yang keluar), karena banyaknya hadits-hadits yang menjelaskan tentang <em>muruq</em>-nya (keluarnya) mereka dari din (agama). Disebut pula dengan <em>Al-Muhakkimah</em>, karena mereka selalu mengulang kata-kata <em>Laa Hukma Illa Lillah</em> (tiada hukum kecuali untuk Allah I), suatu kalimat yang haq namun dimaukan dengannya kebatilan. Disebut pula dengan <em>An-Nawashib</em>, dikarenakan berlebihannya mereka dalam menyatakan permusuhan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib z. (<strong>Firaq Mu’ashirah</strong>, 1/68-69, Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji, secara ringkas).</p>
<p><em>(Bersambung Insya Allah …)</em></p>
<p>Penulis : <strong>Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.</strong></p>
<p>Sumber:</p>
<p><strong>Majalah Asy-Syari’ah Vol I/No. 04/Desember 2003/Syawwal 1424 H</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=117&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/10/02/khawarij-kelompok-sesat-pertama-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Faedah Puasa Syawal</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/28/lima-faedah-puasa-syawal/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/28/lima-faedah-puasa-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 06:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIQIH IBADAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini.  Semoga bermanfaat. Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=112&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://salmannawwaf.wordpress.com/"><img class="alignleft size-full wp-image-113" title="SYAWAL" src="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/hilal.jpg?w=510" alt=""   /></a>Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini.  Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh.</strong></p>
<p><strong><span id="more-112"></span></strong>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”</em>[1]</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا</p>
<p><em>“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].”</em>[4] Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.</p>
<p>Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:</p>
<ol>
<li>Puasanya dilakukan selama enam hari.</li>
<li>Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.</li>
<li>Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.</li>
<li>Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.</li>
</ol>
<p><strong>Faedah kedua: Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib.</strong></p>
<p>Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.[6]</p>
<p><strong>Faedah ketiga: Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan.</strong></p>
<p>Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.[7] Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,</p>
<p>مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا</p>
<p><em>“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”</em>[8]</p>
<p>Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[9]</p>
<p>Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!</p>
<p>Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, “Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”[10] Hanya Allah yang memberi taufik.</p>
<p><strong>Faedah keempat: Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah.</strong></p>
<p>Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!</p>
<p>Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”[11] Sampai-sampai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,</p>
<p>أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا</p>
<p><em>“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”</em>[12]</p>
<p>Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir “Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</p>
<p><em>“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”</em> (QS. Al Baqarah: 185)</p>
<p>Begitu pula para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.</p>
<p>Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: “Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”[13]</p>
<p><strong>Faedah kelima: Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja.</strong> [14]</p>
<p>Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah <a title="puasa syawal" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lima-faedah-puasa-syawal.html">Ramadhan</a> itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.</p>
<p>Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ‘ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.</p>
<p>Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,</p>
<p>بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها</p>
<p>“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun.” Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.</p>
<p>Asy Syibliy pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.</p>
<p>‘Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ‘Aisyah mengenai amalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?”</em> ‘Aisyah menjawab,</p>
<p>لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً</p>
<p><em>“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg).”</em>[15]</p>
<p>Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,</p>
<p>وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ</p>
<p><em>“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).”</em> (QS. Al Hijr: 99).[16] Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa <em>“al yaqin”</em> adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.[17]</p>
<p>Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, “Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. … Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”[18]</p>
<p>Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Diselesaikan di Batu Merah, kota Ambon, 4 Syawal 1430 H</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel <a title="puasa syawal" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lima-faedah-puasa-syawal.html">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p>[1] HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori<br />
[2] Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah.<br />
[3] QS. Al An’am ayat 160.<br />
[4] HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat <em>Shahih At Targhib wa At Tarhib</em> no. 1007.<br />
[5] Lihat <em>Fathul Qodir</em>, Asy Syaukani, 3/6, <em>Mawqi’ At Tafaasir</em>, Asy Syamilah dan Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 282, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.<br />
[6] Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]<br />
[7] -idem-<br />
[8] <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]<br />
[9] <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 394.<br />
[10] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141<br />
[11] <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 394.<br />
[12] HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820.<br />
[13] Lihat <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 394-395.<br />
[14] Pembahasan berikut kami olah dari <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 396-400<br />
[15] HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783<br />
[16] <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 398.<br />
[17] Lihat <em>Zaadul Masiir</em>, Ibnul Jauzi, 4/79, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah<br />
[18] <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 399.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=112&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/28/lima-faedah-puasa-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/hilal.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SYAWAL</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendidik Generasi Idaman</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/mendidik-generasi-idaman-2/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/mendidik-generasi-idaman-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 15:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[INFO KAJIAN]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Bekasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah Tabligh Akbar..!!  untuk umum (Ikhwan dan Akhwat) Pembicara : Ust. Abu Qotadah Tema : MENDIDIK GENERASI IDAMAN (45 Pola Pengajaran Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam) Hari/Tanggal : Ahad, 12 Ramadhan 1431 H / 22 Agustus 2010 Tempat : Islamic Center Bekasi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=105&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hadirilah Tabligh Akbar..!!  untuk umum (Ikhwan dan Akhwat)</p>
<p>Pembicara : Ust. Abu Qotadah</p>
<p><span id="more-105"></span>Tema : <strong>MENDIDIK GENERASI IDAMAN</strong> (45 Pola Pengajaran Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam)</p>
<p>Hari/Tanggal : Ahad, 12 Ramadhan 1431 H / 22 Agustus 2010</p>
<p>Tempat : Islamic Center Bekasi</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/44655_1250650126773_1845098976_487642_5489335_n.jpg"><img class="aligncenter" title="Kajian Bekasi" src="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/44655_1250650126773_1845098976_487642_5489335_n.jpg?w=500&#038;h=720" alt="" width="500" height="720" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=105&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/mendidik-generasi-idaman-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/44655_1250650126773_1845098976_487642_5489335_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Bekasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amalan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/amalan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/amalan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 08:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUASA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Asma Kholid bin Syamhudi DEFINISI PUASA Secara bahasa, puasa (ash shiyam) dalam bahasa Arab artinya menahan diri, seperti tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala : &#8220;Aku telah bernadzar kepada Allah untuk menahan diri (dari berbicara)&#8221;.[Maryam : 26]. Adapun secara istilah syar&#8217;i ialah, menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=95&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://salmannawwaf.wordpress.com/"><img class="alignleft size-full wp-image-98" title="puasa2" src="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/puasa2.jpg?w=510" alt=""   /></a>Oleh<br />
Ustadz Abu Asma Kholid bin Syamhudi</p>
<p style="text-align:justify;">DEFINISI PUASA<br />
Secara bahasa, puasa (ash shiyam) dalam bahasa Arab artinya menahan diri, seperti tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku telah bernadzar kepada Allah untuk menahan diri (dari berbicara)&#8221;.[Maryam : 26].</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-95"></span><br />
Adapun secara istilah syar&#8217;i ialah, menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan disertai niat.</p>
<p style="text-align:justify;">AMALAN-AMALAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PUASA<br />
1. Niat.<br />
Jika telah masuk bulan Ramadhan, wajib bagi setiap muslim untuk berniat puasa pada malam harinya, karena Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu&#8221;. [Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Al Baihaqi, dari Hafshah binti Umar]</p>
<p style="text-align:justify;">Niat itu, tempatnya berada di hati. Sedangkan melafalkannya, termasuk amal bid&#8217;ah. Berniat puasa pada malam hari, ini khusus untuk puasa wajib saja.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Qiyam Ramadhan.<br />
a. Qiyam Ramadhan Disyariatkan Dengan Berjamaah.<br />
Dalam melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) disyariatkan berjamaah. Bahkan berjamaah itu lebih utama dibandingkan mengerjakannya sendirian, karena Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah melakukan hal tersebut dan menjelaskan keutamaannya. Tersebut dalam hadits Abu Dzar:</p>
<p style="text-align:justify;">صُمْنَا مَعَ رَسُولِ الهِd صَلَّى الهُa عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah. Beliau tidak mengimami shalat tarawih kami selama bulan itu, kecuali sampai tinggal tujuh hari. Saat itu, Beliau mengimami kami (shalat tarawih) sampai berlalu sepertiga malam. Pada hari keenam (tinggal 6 hari), Beliau tidak shalat bersama kami. Baru kemudian pada hari kelima (tinggal 5 hari), Beliau mengimami kami (shalat tarawih) sampai berlalu separoh malam. Saat itu kami berkata kepada Beliau: &#8216;Wahai Rasulullah. Sudikah engkau menambah shalat pada malam ini&#8217;. Beliau menjawab,&#8217;Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imamnya sampai selesai, niscaya ditulis baginya pahala shalat satu malam&#8217;. Lalu pada malam keempat (tinggal 4 hari), kembali Beliau tidak mengimami shalat kami. Dan pada malam ketiga (tinggal 3 hari), Beliau kumpulkan keluarga dan istri-istrinya serta orang-orang, lalu mengimami kami (pada malam tersebut) sampai kami takut kehilangan kemenangan. Aku (perawi dari Abu Dzar) berkata: Aku bertanya, Apa kemenangan itu?. Beliau (Abu Dzar) menjawab, Sahur.&#8221; [HR At Tirmidzi].</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah shalat tarawih atau qiyamu ramadhan tidak dilaksanakan dengan berjamaah pada masa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan masa Abu Bakar, sampai pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Rasulullah tidak melakukannya secara berjamaah terus-menerus, sebab Beliau khawatir hal itu akan diwajibkan atas kaum Muslimin, sehingga ummatnya tidak mampu mengerjakannya. Disebutkan dalam hadits Aisyah (dalam Shahihain): &#8220;Bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam keluar pada suatu malam, lalu shalat di masjid, dan beberapa orang ikut shalat bersamanya. Pagi harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka berkumpullah orang lebih banyak dari mereka, lalu (Rasulullah) shalat dan orang-orang tersebut shalat bersamanya. Pada keesokan harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka pada malam ke tiga, jama&#8217;ah semakin banyak, lalu Rasulullah keluar dan shalat bersama mereka. Ketika malam ke empat masjid tidak dapat menampung jama&#8217;ah (namun Beliau tidak keluar) sehingga Beliau keluar untuk shalat Subuh; ketika selesai shalat Subuh, Beliau menghadap jama&#8217;ah, lalu membaca syahadat dan bersabda: Amma ba&#8217;du. Aku sudah mengetahui sikap kalian. Akan tetapi, aku khawatir shalat ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak mampu melaksanakannya. Lalu (setelah beberapa waktu) Rasulullah meninggal, dan perkara tersebut tetap dalam keadaan tidak berjamaah&#8221;. [HR Al Bukhari dan Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, sebab shalat ini tidak dilaksanakan secara berjama&#8217;ah terus-menerus pada masa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah kekhawatiran beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kalau-kalau shalat ini diwajibkan atas umatnya. Dan sebab ini telah hilang dengan wafatnya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. karena dengan wafatnya beliau berarti agama ini telah disempurnakan oleh Allah Azza wa Jalla, tidak mungkin lagi ada penambahan. Dengan demikian, tinggallah hukum disyariatkannya berjamaah dalam qiyam Ramadhan (baca tarawih) yang hal itu dihidupkan oleh Umar bin al-Khaththab pada kekhalifaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Jumlah Rakaatnya.<br />
Menurut pendapat yang rajih (kuat), qiyam ramadhan dikerjakan 11 rakaa, dan boleh kurang darinya. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menentukan banyaknya maupun panjang bacaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Waktunya.<br />
Waktunya dikerjakan dari setelah shalat Isya` sampai munculnya fajar Subuh. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ اللهَ زَادَ كُمْ صَلاَةً ،وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya Allah telah menambah kalian satu shalat, dan dia adalah witir, maka shalatlah kalian antara shalat Isya sampai shalat Fajar&#8221;. [HR Ahmad dari Abi Bashrah, dan dishahihkan Al Albani dalam Qiyam Ar Ramadhan, 26].</p>
<p style="text-align:justify;">d. Qunut.<br />
Setelah selesai membaca surat dan sebelum ruku, kadang-kadang Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca qunut, dan boleh dilakukan setelah ruku.</p>
<p style="text-align:justify;">e. Bacaan Setelah Shalat Witir.</p>
<p style="text-align:justify;">سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْس</p>
<p style="text-align:justify;">Cara membaca doa ini, yaitu dengan memanjangkan suara dan meninggikannya pada yang ketiga.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Sahur.<br />
Allah mensyariatkan sahur atas kaum Muslimin untuk membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka, sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam hadits Abu Sa&#8217;id Al Khudri :</p>
<p style="text-align:justify;">فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُوْرِ  رواه مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur&#8221;. [Riwayat Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;">a. Keutamaan Sahur.<br />
- Sahur adalah berkah. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللهُ إِيَّاهَا فَلاَ تَدَعُوْهُ  رواه النسائي وأحمد بسند صحيح</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya sahur adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, maka kalian jangan meninggalkannya&#8221;. [Riwayat An Nasa-i dan Ahmad, dengan sanad yang shahih].</p>
<p style="text-align:justify;">Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas, karena itu mengikuti Sunnah dan menguatkan orang berpuasa, serta menambah semangat untuk menambah puasa. Juga mengandung maksud untuk membedakan dengan ahli kitab.</p>
<p style="text-align:justify;">- Shalawat dari Allah dan malaikat ditujukan kepada orang yang bersahur. Dalam hadits Abu Sa&#8217;id Al Khudri Radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">السَّحُوْرُ أَكْلَةُ الْبَرَكَةِ، فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ رواه ابن أبي شيبة وأحمد</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sahur adalah makanan berkah, maka kalian jangan tinggalkan, walaupun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang bersahur&#8221;.[Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad].</p>
<p style="text-align:justify;">b. Mengakhirkan Sahur Adalah Sunnah.<br />
Disunnahkan memperlambat sahur sampai mendekati Subuh (Fajar), sebagaimana disebutkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhu dari Zaid bin Tsabit, ia berkata :</p>
<p style="text-align:justify;">تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيْثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ:كَمْ كَانَ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَالسُّحُوْرِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِيْنَ آيـة رواه البخاري ومسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kami sahur bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, kemudian Beliau pergi untuk shalat. Aku (Ibnu Abbas) bertanya: Berapa lama antara adzan dengan sahur? Dia menjawab, Sekitar 50 ayat.&#8221; [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]<br />
.<br />
c. Hukum Sahur.<br />
Sahur merupakan sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Dalilnya :<br />
- Perintah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<p style="text-align:justify;">تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السُّحُوْرِ بَرَكَةً   رواه البخاري ومسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bersahurlah, karena dalam sahur terdapat berkah&#8221;. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;">- Larangan meninggalkan sahur sebagaimana tersebut dalam hadits Abu Sa&#8217;id yang terdahulu. Oleh karena itu, Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (3/139) menukilkan ijma tentang sunnahnya sahur.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Waktu Puasa.<br />
Waktu puasa dimulai dari terbit fajar Subuh sampai terbenam matahari. Dalilnya, yaitu firman Allah, yang artinya : &#8220;Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam&#8221;. [Al-Baqarah:186].</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah jelas waktu fajar, maka kita menyempurnakan puasa sampai terbenam matahari, lalu berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَ أَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ رواه البخاري ومسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jika telah datang waktu malam dari arah sini dan pergi waktu siang dari arah sini serta telah terbenam matahari, maka orang yang berpuasa telah berbuka&#8221;. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu berbuka tersebut dapat dilihat dengan datangnya awal kegelapan dari arah timur setelah hilangnya bulatan matahari secara langsung. Semua itu dapat dilihat dengan mata telanjang, tidak memerlukan alat teropong untuk mengetahuinya.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa.<br />
a. Makan dan minum dengan sengaja. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, yang artinya : &#8220;Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam&#8221; [Al-Baqarah:186].<br />
b. Sengaja untuk muntah, atau muntah dengan sengaja.<br />
c. Haid dan nifas.<br />
d. Injeksi yang berisi makanan (infus).<br />
e. Bersetubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Perkara-Perkara Lain Yang Harus Ditinggalkan Saat Berpuasa.<br />
a. Berkata bohong. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah nbersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ اْلعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِلهُِ حَاجَةً أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه رواه البخاري</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum&#8221;. [Riwayat Al Bukhari].</p>
<p style="text-align:justify;">b. Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan). Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَابِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ رواه ابن خزيمة والحاكم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum, (tetapi) puasa itu adalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah : Saya sedang puasa. Saya sedang puasa&#8221;. [Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim].</p>
<p style="text-align:justify;">7. Perkara-Perkara Yang Dibolehkan.<br />
a. Orang yang junub sampai datang waktu fajar, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata: &#8220;Sesungguhnya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendapatkan fajar (Subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya, kemudian mandi dan berpuasa&#8221;. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim].<br />
b. Bersiwak.<br />
c. Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika berwudhu`.<br />
d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang berpuasa, dan dimakruhkan bagi orang-orang yang berusia muda, karena dikhawatirkan hawa nafsunya bangkit.<br />
e. Injeksi yang bukan berupa makanan.<br />
f. Berbekam.<br />
g. Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan.<br />
h. Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata.<br />
i. Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Orang-Orang Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa.<br />
a. Musafir (orang yang melakukan perjalanan atau bepergian ke luar kota). Mereka diberi kemudahan oleh Allah untuk berbuka. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya : &#8220;Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain&#8221;. [Al-Baqarah :185]. Mereka diperbolehkan berbuka dan mengqadha (mengganti) puasanya pada bulan-bulan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Orang yang sakit diperbolehkan berbuka puasa pada bulan Ramadhan sebagai rahmat dan kemudahan yang Allah limpahkan kepadanya. Orang Sakit yang dibolehkan untuk berbuka puasa, jika sakit tersebut dapat membahayakan jiwanya, atau menambah sakitnya yang ditakutkan akan mengakhirkan atau memperlambat kesembuhannya jika si penderita berpuasa.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Wanita yang sedang haid atau nifas diwajibkan berbuka, maksudnya tidak boleh berpuasa. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَ لَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bukankah kalau dia sedang haid tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa? Maka itulah kekurangan agamanya&#8221;. [HR Bukhari].</p>
<p style="text-align:justify;">Juga hadits Aisyah ketika beliau ditanya tentang wanita yang mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalatnya:</p>
<p style="text-align:justify;">كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ صَوْمِنَا وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ صَلاَتِنَا</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dulu kamipun mendapatkannya, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat&#8221;. [HR Bukhari dan Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan ijma&#8217; para ulama, maka wanita yang sedang haid atau nifas, diwajibkan berbuka dan mengqadha puasanya pada bulan-bulan yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">d. Orang yang sudah tua dan lemah, baik laki-laki maupun perempuan dibolehkan untuk berbuka, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas: &#8220;Orang laki-laki dan perempuan tua yang sudah tidak mampu berpuasa, maka mereka memberi makan setiap hari seorang miskin&#8221;. [Riwayat Al Bukhari, no. 4505].</p>
<p style="text-align:justify;">e. Wanita sedang hamil atau menyusui, yang takut terhadap keselamatan dirinya dan anak yang dikandungnya atau anak yang disusuinya, juga termasuk yang mendapat keringanan untuk berbuka. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali fidyah. Demikian ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ishaq. Dalilnya ialah firman Allah, yang artinya : Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah (jika mereka tidak puasa), (yaitu) memberi makan seorang miskin. [Al-Baqarah : 184].</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini dikhususkan bagi orang tua yang sudah lemah, orang sakit yang tidak kunjung sembuh, orang hamil dan menyusui jika keduanya takut terhadap keselamatan dirinya atau anaknya. Karena ayat di atas telah dinasakh oleh ayat yang lain, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdulah bin Umar dan Salamah bin Al Akwa&#8217;:</p>
<p style="text-align:justify;">كُنَّا فِيْ رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِيْنِ<br />
حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الأَيَةُ : فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْ.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kami dahulu pada bulan Ramadlan dimasa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang mau berpuasa, boleh dan yang tidak bepuasa juga boleh, tapi memberikan makan kepada satu orang miskin, sampai turun ayat (yang artinya) &#8220;Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu, -QS Al Baqarah ayat 185-<br />
,<br />
Akan tetapi Ibnu Abbas berpendapat, bahwa ayat tersebut tidak dinasakh (dihapus). Ayat ini khusus bagi orang-orang tua yang tidak mampu berpuasa, dan mereka boleh memberi makan satu orang miskin setiap hari. (Lihat perkataannya yang diriwayatkan Ibnul Jarut, Baihaqi dan Abu Dawud dengan sanad shahih). Pendapat ini dikuatkan juga oleh hadits Mu&#8217;adz bin Jabal, ia berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَيَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِلَى قَوْلِهِ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا أَجْزَأَهُ ذَلِكَ وَهَذَا حَوْلٌ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ إِلَى أَيَّامٍ أُخَرَ فَثَبَتَ الصِّيَامُ عَلَى مَنْ شَهِدَ الشَّهْرَ وَعَلَى الْمُسَافِرِ أَنْ يَقْضِيَ وَثَبَتَ الطَّعَامُ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ اللَّذَيْنِ لَا يَسْتَطِيعَانِ الصَّوْمَ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya Rasulullah setelah datang ke Madinah memulai puasa tiga hari setiap bulan dan puasa hari Asyura, kemudian Allah turunkan firmanNya &#8221; Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kelian berpuasa&#8230;&#8221; sampai pada firmanNya &#8220;&#8230;memberi makan.&#8221;. Ketika itu, siapa yang ingin berpuasa, dia berpuasa. Dan yang ingin berbuka (tidak puasa), bisa menggantinya dengan memberi makan satu orang miskin. Ini selama satu tahun. Kemudian Allah menurunkan lagi ayat yang lain &#8220;Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al Qur&#8217;an &#8230;&#8221; sampai pada firmanNya &#8220;..di hari yang lain ..&#8221;. Maka puasa tetap wajib bagi orang yang mukim (tidak safar) pada bulan tersebut, dan bagi musafir wajib mengqadha puasanya, dan menetapkan pemberian makanan bagi orang-orang tua yang tidak mampu untuk berpuasa &#8230; . &#8221; [HR Abu Dawud, Baihaqi dan Ahmad].</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid dan Salim Al Hilali dalam Shifat Shaum Nabi, lihat halaman 80-84.</p>
<p style="text-align:justify;">9. Berbuka Puasa.<br />
a. Mempercepat waktu berbuka puasa. Termasuk sunnah dalam puasa, yaitu mempercepat waktu berbuka. Sebagaimana dikatakan oleh Amr bin Maimun Al Audi, bahwa sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya. [Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, no. 7591 dengan sanad yang dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bary, 4/199]. Manfaat dari mempercepat berbuka ialah :</p>
<p style="text-align:justify;">- Untuk mendapatkan kebaikan. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa&#8217;ad Radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ  رواه البخاري ومسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya.&#8221;. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;">- Merupakan Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
- Untuk membedakan dengan puasa ahli kitab, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لأَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَهُ رواه أبو داود وابن حبان بسند حسن</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum Muslimin) mempercepat buka puasanya, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya&#8221;. [Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan].</p>
<p style="text-align:justify;">Dan berbuka puasa dilakukan sebelum shalat Maghrib, karena merupakan akhlak para nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Makanan Berbuka.<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk berbuka dengan kurma, dan kalau tidak ada, maka dengan air sebagaimana dikatakan Anas bin Malik: &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan kurma, dan kalau tidak ada kurma, Beliau menghirup (meminum) beberapa teguk air&#8221;. [HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih]. Ini merupakan kesempurnaan kasih sayang dan perhatian Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terhadap umatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Bacaan Ketika Berbuka.<br />
Berdoa ketika berbuka termasuk dari doa-doa yang mustajab, sebagaimana disabdakan Rasulllah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<p style="text-align:justify;">ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ada tiga doa yang mustajab, (yaitu): doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terzhalimi dan doanya para musafir&#8221;. [HR Al Uqaili].</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaiknya berdoa dengan doa:</p>
<p style="text-align:justify;">ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَ ثَبَتََ الأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mudah-mudahan hilang dahaga, basah otot-otot dan mendapat pahala, insya Allah&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">d. Memberi Makan Kepada Orang Yang Berpuasa.<br />
Hendaknya orang yang berpuasa menambah pahala puasanya dengan memberi makan orang yang berbuka puasa. Orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرُ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Barangsiapa yang memberi buka puasa orang yang berpuasa, maka dia mendapat (pahala) seperti pahalanya (orang yang berbuka itu) tanpa mengurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut&#8221;. [HR Ahmad dan At Tirmidzi]</p>
<p style="text-align:justify;">10. Adab Orang Yang Berpuasa.<br />
a. Memperlambat sahur.<br />
b. Mempercepat berbuka puasa.<br />
c. Berdoa ketika berpuasa dan ketika berbuka.<br />
d. Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa.<br />
e. Bersiwak.<br />
f. Memperbanyak berinfak dan tadarus Al Qur`an.<br />
g. Bersungguh-sungguh dalam beribadah, khususnya pada sepuluh hari terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah puasa yang kamisampaikan secara singkat. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Maraji` :<br />
1. Shifat Shaum Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam, oleh Salim Al Hilali dan Ali Hasan.<br />
2. Fatawa Ramadhan.<br />
3. Majmu&#8217; Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.<br />
4. Qiyam Ar Ramadhan, Syaikh Muhammad Nashruddin Al Albani.</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 06/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=95&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/amalan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/puasa2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">puasa2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Bid&#8217;ah Shalat Tarawih</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/88/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/88/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 07:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[SHALAT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Shalat tarawih adalah shalat malam berjama’ah pada bulan Ramadhan. Waktunya, mulai dari selesai shalat Isya’ sampai terbit fajar. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat menganjurkan agar melaksanakannya. Sabda Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه البخاري و [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=88&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/"><img class="alignleft size-full wp-image-89" title="tarawih" src="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/tarawih.jpg?w=510" alt=""   /></a>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat tarawih adalah shalat malam berjama’ah pada bulan Ramadhan. Waktunya, mulai dari selesai shalat Isya’ sampai terbit fajar. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat menganjurkan agar melaksanakannya. Sabda Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه البخاري و مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat&#8221;.[1]</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-88"></span>Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha : “Pada suatu malam Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu beberapa orang bermakmum kepada Beliau. Kemudian malam berikutnya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat, dan orang (makmum) bertambah banyak. Mereka pun berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak keluar. Pagi harinya, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ رواه البخاري</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku telah melihat perbuatan kalian. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian (untuk shalat), kecuali kekhawatiranku, kalau-kalau itu difardhukan atas kalian&#8221;. [2]</p>
<p style="text-align:justify;">JUMLAH RAKA’AT SHALAT TARAWIH<br />
Permasalahan mengenai jumlah raka’at shalat tarawih, selalu mengemuka setiap memasuki bulan Ramadhan. Berikut kami angkat permasalahan ini, yang kami nukil dari pembahasan yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ketika beliau rahimahullah menanggapi sebuah risalah yang ditulis berkaitan dengan pelaksanaan shalat tarawih, baik menyangkut jumlah raka’atnya, maupun lama kecepatan shalatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">الحمد لله رب العالمين والصلاة و السلام على نبينا محمد خاتم النبيين وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah menelaah sebuah risalah tentang shalat tarawih yang ditujukan kepada kaum muslimin. Telah sampai kabar kepadaku, risalah ini dibacakan di beberapa masjid. Risalah ini sangat bagus. Di dalamnya penulis mendorong agar khusyu’ dan tuma’ninah (perlahan) dalam melaksanakan shalat tarawih. Semoga Allah memberikan balasan yang baik atas kebaikannya. Namun, ada beberapa koreksi terhadap risalah ini, yang wajib dijelaskan. Diantaranya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">PENULIS RISALAH INI MENUKIL RIWAYAT DARI IBNU ABBAS RADHIYALLAHU &#8216;ANHUMA, BAHWA NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM SHALAT 20 RAKA&#8217;AT PADA BULAN RAMADHAN.[3]<br />
Jawabnya:<br />
Hadits ini dhaif (lemah). Dalam Syarah Shahih Bukhari (2/524) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan: &#8220;Adapun hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma, bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat 20 raka’at dan witir pada bulan Ramadhan, maka isnad (jalur periwayatannya) hadits ini lemah dan bertentangan dengan hadits &#8216;Aisyah yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, padahal Aisyah orang yang paling mengetahui perbuatan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada malam hari, dibandingkan dengan lainnya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits Aisyah yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (3/59), Muslim (2/166) dari Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha. Bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman Radhiyallahu &#8216;anhu bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha perihal shalat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وفي رواية لمسلم يُصَلِّي ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ رواه البخاري و مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Pada bulan Ramadhan, Beliau tidak pernah melebihkan dari 11 rak’at. (Begitu) juga pada bulan lainnya. (Dalam hadits riwayat Muslim) Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat 8 raka’at, lalu melakukan witir&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan langgam bahasanya yang keras/tegas, hadits Aisyah ini memberikan kesan pengingkaran terhadap tambahan lebih dari bilangan (sebelas) ini. Sedangkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma tentang cara shalat malam Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dia mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ رواه مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lalu Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian 2 raka’at, kemudian witir&#8221;. [HR Muslim 2/179]</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan ini menjadi jelas, bahwa shalat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada malam hari itu, berkisar antara 11 dan 13 raka’at.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang mengatakan, bahwa shalat malam yang diterangkan dalam hadits ini bukanlah shalat Tarawih, karena Tarawih merupakan sunnah yang dikerjakan Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jawabnya : Shalat malam Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan itulah (yang disebut) Tarawih. Mereka menamakannya Tarawih (istirahat), karena mereka memanjangkan shalatnya lalu istirahat setelah dua kali salam. Oleh karena itu dinamakan Tarawih (istirahat). Dan Tarawih termasuk sunnah perbuatan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Syarah Shahih Bukhari (3/10) dan Shahih Muslim (2/177), dari ‘Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha disebutkan, pada suatu malam Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat di masjid, lalu beberapa orang shalat (bermakmum) di belakang Beliau. Kemudian malam berikutnya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat, lalu makmum bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak kunjung keluar. Pagi harinya, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ رواه البخاري و مسلم</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku telah melihat perbuatan kalian. Tidak ada yang menghalangi untuk keluar kepada kalian (untuk shalat), kecuali kekhawatiranku kalau itu difardlukan atas kalian&#8221;.[4]</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang mengatakan: Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membatasi diri dengan bilangan raka’at ini. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak melarang untuk menambah bilangan ini, karena menambahkan bilangan raka’at merupakan kebaikan dan pahala.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya : Bisa jadi kebaikan itu ada pada pembatasan diri dengan bilangan ini, karena itu merupakan petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Jika kebaikan itu terdapat pada pembatasan dengan bilangan ini, maka membatasi diri dengan bilangan ini merupakan perbuatan yang lebih utama.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa jadi juga kebaikan itu ada pada penambahan bilangan. Jika demikian, berarti Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kurang dalam melakukan kebaikan dan rela menerima yang kurang daripada yang lebih utama dengan tanpa memberikan penjelasan kepada umatnya. Demikian ini hal yang mustahil.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang mengatakan: Lalu bagaimana menanggapi hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam Muwattha’, dari Yazid bin Ruman, dia mengatakan: &#8220;Dahulu pada zaman Umar, orang-orang melaksanakan shalat (tarawih) 23 raka’at di bulan Ramadhan&#8221;. [Muwattha’ Syarah Az Zarqani, 1/239].</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya : Hadits ini memiliki illat (salah satu sebab lemahnya hadits) dan bertentangan. Illatnya adalah sanadnya munqhati&#8217; (terputus), karena Yazid bin Ruman tidak pernah ketemu Umar, sebagaimana dikatakan oleh ahli hadits, misalnya Imam Nawawi dan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Segi pertentangannya, hadits ini bertentangan dengan yang diriwayatkan Imam Malik dalam Muwattha’ dari Muhammad bin Yusuf -dia ini tsiqat tsabat (terpercaya sekali)- dari Saib bin Yazid (dia adalah seorang sahabat), dia mengatakan: &#8220;Umar bin Khaththab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari agar mengimami orang dengan sebelas raka’at&#8221;. [Muwattha’ Syarah Az Zarqani, 1/138].</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari tiga segi, sesungguhnya hadits yang kedua ini arjah (lebih kuat) dibandingkan dengan hadits Yazid bin Ruman.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama : Amalan (11 raka’at) ini lebih lurus dan lebih bagus, karena sesuai dengan bilangan raka’at yang sah dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan Umar Radhiyallahu &#8216;anhu tidak akan memilih, kecuali yang sah dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam manakala ia tahu. Sangat kecil kemungkinan beliau Radhiyallahu &#8216;anhu tidak mengetahui tentang bilangan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua : Hadits Saib bin Yazid mengenai 11 raka’at dinisbatkan (dikaitkan) kepada Umar. Jadi itu merupakan perkataan Umar. Sedangkan hadits Yazid bin Ruman mengenai 23 raka’at dikaitkan dengan masa Umar ; jadi itu merupakan iqrar (persetujuan) Umar, sedangkan perkataan lebih kuat (kedudukannya) daripada iqrar. Karena perkataan (menunjukkan kejelasan pilihan. Adapun iqrar, kadang untuk sesuatu yang mubah bukan pada pilihan. Umar mengakui (perbuatan) mereka 23 raka’at, karena tidak ada larangan dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan mereka bisa berijtihad dalam masalah ini. Lalu Umar mengakui ijtihad mereka, meskipun memilih sebelas raka’at, berdasarkan perintahnya kepada Ubay.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga : Hadits Saib bin Yazid mengenai 11 raka’at bersih dari illat, sanadnya bersambung. Sedangkan hadits Yazid bin Ruman memiliki illat (sebab tersembunyi yang bisa melemahkan hadits-pent), sebagaimana penjelasan di muka. Dan juga rekomendasi ketsiqahan sang perawi dari Saib bin Yazid yaitu Muhammad bin Yusuf lebih kuat daripada rekomendasi terhadap ketsiqahan Yazid bin Ruman. Mengenai perawi dari Saib bin Yazid yaitu Muhammad bin Yusuf dikatakan, dia ini tsiqah tsabat (terpercaya sekali). Sedangkan Yazid bin Ruman dianggap, dia ini tsiqah. Demikian ini merupakan salah satu bentuk tarjih (penguatan) dalam ilmu musthalah hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun hadits Yazid bin Ruman mengenai 23 raka’at ini dianggap sah dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tidak memiliki illat dan tidak bertentangan, namun hadits ini tidak bisa diutamakan dari (hadits tentang) bilangan raka’at yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah menambah pada bulan Ramadhan ataupun pada bulan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menanggapi perselisihan ini, maka wajib bagi kita untuk membaca firman Allah Azza wa Jalla surat An Nisa’ ayat 59, yang artinya: &#8220;Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah mewajibkan kita agar kembali kepada Allah, yaitu kitabNya dan kepada RasulNya ketika Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam masih hidup, atau kepada sunnahnya kala Beliau sudah meninggal. Allah juga memberitahukan, jalan ini adalah jalan terbaik dan terbagus akibatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah juga berfirman, yang artinya: &#8220;Maka demi Rabb-mu, (pada hakikatnya) mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hati&#8221;. [An Nisa’:65].</p>
<p style="text-align:justify;">Allah menjadikan berhukum kepada Rasulullah pada perselisihan yang timbul diantara manusia sebagai salah satu tuntutan keimanan. Allah menyatakan “tidak beriman” dengan pernyataan yang diperkuat dengan sumpah terhadap orang yang tidak berhukum kepada Rasul, tidak puas dengan hukumnya dan tidak taat kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah khutbahnya, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ</p>
<p style="text-align:justify;">Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.[5]</p>
<p style="text-align:justify;">Ini masalah yang sudah pasti disepakati oleh seluruh kaum muslimin. Bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Petunjuk Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih baik dibandingkan dengan petunjuk orang lain, siapapun juga. Bahkan jika ada kebaikan pada petunjuk seseorang, maka itu semua berasal dari petunjuk Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan para sahabat memberikan peringatan keras terhadap perbuatan mempertentangkan antara sabda Rasulullah dengan perkataan orang lain, antara petunjuknya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan petunjuk orang lain. Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُوْنَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hampir saja kalian dihujani batu dari langit, aku mengatakan “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda” (sedangkan) kalian mengatakan &#8220;Abu Bakar dan Umar mengatakan&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ketika Umar dihadapkan kepadanya dua orang yang saling berselisih, maka terhadap orang yang tidak ridha dengan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Umar Radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan: “Apakah seperti ini?”, lalu ia membunuhnya. Riwayat ini disebutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Tauhid, dan dalam syarahnya Taisir Azizil Hamid, halaman 510. Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: &#8220;Kisah ini masyhur dan beredar di kalangan ulama Salaf dan Khalaf dengan peredaran yang tidak membutuhkan sanad. Dia memiliki beberapa jalur periwayatan. Kelemahan sanadnya tidak mengakibatkannya cela&#8221;.[6]</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dikatakan kepada seorang muslim: Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengimami jama’ah dengan 11 atau 13 raka’at, sedangkan yang lainnya mengimami orang dengan 23 atau 39 raka’at.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka tidak ada pilihan bagi seorang muslim, kecuali mengikuti Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan mengamalkan petunjuknya. Karena perbuatan yang sesuai dengan Rasulullah adalah amal terbaik dan lurus. Dan tujuan Allah menciptakan manusia, langit dan bumi adalah agar manusia melakukan yang terbaik. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al Mulk ayat 2, yang artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Juga firmanNya dalam surat Hud ayat 7, yang artinya: Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah &#8216;ArsyNya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya. Allah tidak mengatakan &#8220;agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih banyak amalnya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah diketahui bersama, bahwa suatu amal, semakin diikhlaskan hanya kepada Allah semata dan semakin berittiba’ kepada Rasulullah, maka amal itu pasti semakin baik. Jadi 11 atau 13 raka’at lebih baik daripada ditambah, karena keselarasannya dengan hadits yang sah dari Rasulullah n , sehingga ia lebih utama dan lebih baik. Apalagi jika shalatnya dilakukan dengan perlahan, khusyu’ konsenterasi serta tuma’ninah, yang memungkinkan bagi makmum dan imam untuk berdo’a dan berdzikir.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dikatakan: Sesungguhnya shalat 23 raka’at adalah sunnah yang dilakukan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu, dan merupakan salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin, yang kita diperintahkan agar mengikutinya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin yang mendapatkan petunjuk sepeninggalku&#8221;.[7]</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya : Demi, Allah! Sungguh Umar Radhiyallahu &#8216;anhu benar-benar termasuk Khulafa&#8217; ur Rasyidin, dan kita diperintahkan agar mengikuti sunnahnya. Bahkan dia termasuk salah satu dari dua orang agar kita meneladani keduanya. Rasulullah memerintahkan kepada kita dengan sabdanya:</p>
<p style="text-align:justify;">إِنِّي لَا أَدْرِي مَا بَقَائِي فِيكُمْ فَاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sungguh saya tidak tahu, masih berapa lama lagi saya akan bersama kalian. Maka sepeninggalku, ikutilah Abu Bakar dan Umar&#8221;. [Diriwayatkan oleh Tirmidzi].</p>
<p style="text-align:justify;">Umar Radhiyallahu &#8216;anhu juga seorang yang diterangkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sabdanya:</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya Allah telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar&#8221;. [Diriwayatkan Tirmidzi].</p>
<p style="text-align:justify;">Umar Radhiyallahu &#8216;anhu juga orang yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sabdanya:</p>
<p style="text-align:justify;">لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ اْلأُمَمِ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sungguh telah ada pada umat sebelum kalian, (yaitu) suatu kaum yang mendapatkan ilham. Dan jika ada pada umatmu seorang yang mendapatkan ilham, maka sessugguhnya orang itu adalah Umar&#8221;. [Muttafaqun ‘alaih].[10]</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menjadi permasalahan, manakah sunnah Umar Radhiyallahu &#8216;anhu yang menunjukkan bilangan raka&#8217;at tarawih? Sesungguhnya penetapan sunnah Umar pada 23 raka&#8217;at merupakan sesuatu yang mustahil. Telah dijelaskan bahwa keabsahan sanadnya –terlebih lagi penentuan sunnahnya- memiliki illat (salah satu tanda lemahnya hadits) dan bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat sanadnya, kandungannya dan lebih lurus amalannya. Yang sah dari Umar, beliau z memerintahkan kepada Ubay bin Ka&#8217;ab dan Tamim Ad Dariy agar mengimami manusia dengan 11 raka&#8217;at. [11]</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, anggapan sahnya riwayat penentuan bilangan 23 raka&#8217;at berasal dari Umar Radhiyallahu &#8216;anhu, ini juga tidak bisa dijadikan hujjah (yang mengalahkan) perbuatan Rasulullah dan juga tidak bisa menjadi tandingan baginya. Berdasarkan Al Qur&#8217;an, As Sunnah dan perkatan-perkataan para sahabat serta Ijma&#8217; (kesepakatan ulama&#8217;), bahwa sunnah Rasulullah tidak akan bisa disamai oleh sunnah orang lain. Siapapun orangnya, tidak bisa menentangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Syafi&#8217;i rahimahullah berkata,”Seluruh kaum muslimin telah sepakat, bahwa orang yang sudah jelas bagi sunnah dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka haram baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut disebabkan oleh perkataan seseorang.”</p>
<p style="text-align:justify;">PENULIS RISALAH MENYATAKAN : SESUNGGUHNYA KAUM MUSLIMIN SENANTIASA (MELAKSANAKAN) 23 RAKA&#8217;AT SEJAK ZAMAN SHABAT SAMPAI MASA KITA INI, SEHINGGA MENJADI IJMA&#8217;.<br />
Jawabnya:<br />
Yang benar, tidaklah demikian. Perbedaan pendapat telah ada sejak masa sahabat sampai sekarang. Perbedaan ini disebutkan dalam Fath-hul Bari (4/253), Cet. As Salafiyah, yang ringkasnya, 11, 13, 19, 21, 23, 25, 27, 35, 37, 39 [ini (maksudnya 39) dilakukan di Madinah pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz. Imam Malik mengatakan: “Perbuatan ini sudah dilakukan sejak seratusan tahun lebih”], 41, 47 dan 49. (Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan shalat tarawih dengan bilangan raka&#8217;at ini, silahkan lihat majalah As Sunnah, Edisi 07/VII/2003, Pent).</p>
<p style="text-align:justify;">Jika telah jelas adanya perbedaan, maka yang menjadi hakim pemutus dalam masalah ini adalah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah, yang artinya: &#8220;Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya&#8221;. [An Nisa':59]</p>
<p style="text-align:justify;">والحمد لله ري العالمين وصلى الله على نبينا محمد وعلىآله وصحبه أجمعين</p>
<p style="text-align:justify;">LAMANYA PELAKSANAAN SHALAT TARAWIH<br />
Sebagaimana kita lihat, banyak orang melaksanakan shalat tarawaih dengan mempercepat, bahkan terkesan tergesa-gesa. Untuk memperjelas permasalahan ini, berikut kami nukilkan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, berkaitan dengan tempo atau lamanya cara melaksanakan shalat tarawih.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menerangkan:<br />
Sangat jelas keterangan dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahwa Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memperpanjang shalat malamnya. Begitu pula ketika Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjadi imam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu &#8216;anhu, ketika ia Radhiyallahu &#8216;anhu shalat bersama Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memperpanjang shalatnya sampai Ibnu Mas’ud Radhiyallahu &#8216;anhu berkeinginan untuk duduk dan meninggalkan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. [12] Lihat Al Fath-hul Bari (3/19) dan Shahih Muslim (1/537).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana juga pada hadits Hudzaifah [13]. Suatu ketika, ia z shalat bersama Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’. Jika Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melewati ayat yang mengandung tasbih, Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertasbih. Jika melewati ayat do’a, Beliau berdo’a. Jika melewati ayat tentang perlindungan, Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memohon perlindungan. Lihat Shahih Muslim (1/536-537).</p>
<p style="text-align:justify;">Jelaslah, bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat selama tiga malam pada bulan Ramadhan, dan tidak pada malam ke empat, sebagaimana dalam Shahih Bukhari [14]. Lihat Al Fath (4/253) dan Muslim (1/524).</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula, bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya ketika Ramadhan tersisa 7 hari sampai 1/3 malam, pada malam kedua sampai ½ malam, dan pada malam ketiga sampai mereka (khawatir) tidak bisa sahur. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dan ulama penyusun kitab Sunan. Menurut para ulama penyusun kitab Sunan, perawinya adalah shahih, sebagaimana disebutkan di dalam Nailul Authar.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbuatan memanjangkan inilah yang dilakukan oleh para ulama salafush shalih dari kalangan para sahabat dan tabi’in, sebagaimana diterangkan dalam kitab Muwattha’, karya Imam Malik. Lihat Syarah Az Zarqani (1/238-240).</p>
<p style="text-align:justify;">Beda antara hadits ini (yaitu tentang memanjangkan bacaan) dengan hadits Muadz Radhiyallahu &#8216;anhu tentang larangan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada Mu’adz Radhiyallahu &#8216;anhu dari memanjangkan bacaan (yang dimaksud dengan memanjangkan disini adalah melebihkan dari yang diterangkan dalam sunnah), yaitu hadits memanjangkan ini untuk shalat nafilah (hukumnya sunat) yang diperbolehkan bagi orang untuk tidak ikut berjama’ah dan meninggalkannya. Sedangkan hadits Mu’adz (tentang larangan memanjangkan bacaan) itu pada shalat fardhu yang tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk meninggalkan jama’ah dan mufaraqah (keluar) dari jama’ah, kecuali dengan alas an syar’i. Jadi mereka wajib meniatkannya dan menyempurnakannya. [Lihat Majmu’ Fatawa, hlm. 257-258].</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan, kedua hadits itu tidak bertentangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah beberapa masalah yang berkaitan dengan shalat tarawih. Semoga bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;">[Diangkat dari Majmu’ Fatawa Wa Rasail, 14/210-211]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 07/Tahun VIII/1425/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]<br />
_______<br />
Footnote<br />
[1]. Muttafaq ‘alaih, dari hadits Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al Iman, Bab: Tathawu’ Qiyami Ramadhan Min Al Iman, no. 37 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab: At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 173 (759).<br />
[2]. Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab: At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).<br />
[3]. HR Baihaqi dalam kitab Ash Shalat, Bab: &#8216;Adadu Raka&#8217;ati Al Qiyam … 2/496. Lihat At Talkhish Al Habir, 2/45 (541) dan perhatikan hlm. 246.<br />
[4]. Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).<br />
[5]. HR Muslim dalam kitab Al Jum’ah, Bab: Takhfifu Ash Shalati Wa Al Khutbati, no. 867.<br />
[6]. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam Al Fath (5/37),&#8221;Ini diriwayatkan oleh Al Kalbi dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas … Meskipun sanadnya lemah, tetapi menjadi kuat dengan jalur Mujahid.&#8221; Lihat jilid 10/741 dari Majmu’ Fatawa Wa Rasail.<br />
[7]. Diriwayatkanoleh Abu Dawud dalam As Sunnah, Bab: Luzumus Sunnah, no. 4.607.<br />
[8]. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Manakib Abu Bakar dan Manakib Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma, no. 3.662.<br />
[9]. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Manakib Umar c , no. 3.672, dan ia mengatakan hadits ini hasan.<br />
[10]. Diriwayatkan Imam bukhari dalam Fadhailu Ashabi Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Bab: Manakib Umar, no. 3.679 dari hadits Abu Hurairah dan Imam Muslim dalam Fadhailush Shahabat, Bab: Fadhail Umar dari hadits Aisyah, no. 2.398.<br />
[11]. Dalam kitab Ash Shalat, Bab: Ma Ja’a Fi Qiyami Ramadhan, 1/110 (280).<br />
[12]. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Thulu Al Qiyam Fi Shalat Al Lail, no. 1.135 dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shalat Musafirin, Bab: Istihbab Tathwili Al Qira’ah Fi Shalat Al Lail, 204 (773).<br />
[13]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.<br />
[14]. Muttafaqun ‘alaihi, dari hadits Aisyah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=88&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/21/88/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salmannawwaf.files.wordpress.com/2010/08/tarawih.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tarawih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Usia Ideal Menikah</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/20/usia-ideal-menikah-2/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/20/usia-ideal-menikah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 02:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[TANYA JAWAB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Berapa usia ideal untuk menikah bagi perempuan dan laki-laki, karena ada sebagian remaja putri yang menolak dinikahi oleh lelaki yang lebih tua darinya ? Dan demikian pula banyak laki-laki yang tidak mau menikahi perempuan yang lebih tua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=76&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</p>
<p><strong>Pertanyaan.</strong><br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya :</p>
<p>Berapa usia ideal untuk menikah bagi perempuan dan laki-laki, karena ada sebagian remaja putri yang menolak dinikahi oleh lelaki yang lebih tua darinya ?</p>
<p><span id="more-76"></span>Dan demikian pula banyak laki-laki yang tidak mau menikahi perempuan yang lebih tua daripada mereka. Kami memohon jawabannya. Jazakumullahu khairan</p>
<p><strong>Jawaban.</strong><br />
Saya berpesan kepada para remaja putri agar tidak menolak lelaki karena usianya yang lebih tua dari dia, seperti lebih tua 10,20 atau 30 tahun. Sebab hal itu bukan alasan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menikahi Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ketika beliau berusia 53 tahun, sedangkan Aisyah baru berusia 9 tahun. Jadi usia lebih tua itu tidak berbahaya, maka tidak apa-apa perempuannya yang lebih tua dan tidak apa-apa pula kalau laki-lakinya yang lebih tua.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menikahi Khadijah Radhiyallahu ‘anha yang pada saat itu berumur 40 tahun, sedangkan Rasulullah masih berusia 25 tahun sebelum beliau menerima wahyu. Itu artinya Khadijah lebih tua 15 tahun dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian menikahi Aisyah Radhiyallahu ‘anha sedang umurnya baru enam tahun atau tujuh tahun dan beliau menggaulinya ketika dia berumur sembilan tahun sedang beliau lima puluh tiga tahun.</p>
<p>Banyak sekali mereka yang berbicara di radio-radio atau di televisi menakut-nakuti orang karena kesenjangan usia antara suami dan istri. Ini adalah keliru besar ! Mereka tidak boleh berbicara demikian ! Kewajiban setiap perempuan adalah melihat dan memperhatikan laki-laki yang akan menikahinya, lalu jika dia seorang yang shalih dan cocok, maka hendaknya ia menerima lamarannya, sekalipun lebih tua darinya.</p>
<p>Demikian pula bagi laki-laki, hendaknya lebih memperhatikan perempuan yang shalihah yang komit dalam beragama, sekalipun lebih tua darinya selagi perempuan itu masih dalam batas usia remaja dan produktif. Walhasil, bahwa masalah usia itu tidak boleh dijadikan sebagai penghalang dan tidak boleh dijadikan sebagai cela, selagi laki-laki atau perempuan itu adalah sosok lelaki shalih dan sosok perempuan shalihah. Semoga Allah memperbaiki kondisi kita semua.</p>
<p><strong>[Fatawa Mar'ah, hal.54 oleh Syaikh Bin Baz]</strong></p>
<p><strong>[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=76&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/20/usia-ideal-menikah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Utamakan Menikah</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/20/utamakan-menikah-3/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/20/utamakan-menikah-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 02:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[TANYA JAWAB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada suatu kebiasaan yang sudah meyebar, yaitu adanya gadis remaja atau orang tuanya menolak orang yang melamarnya, dengan alasan madih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi, atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=73&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :<br />
<strong>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan.</strong></p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya :</p>
<p>Ada suatu kebiasaan yang sudah meyebar, yaitu adanya gadis remaja atau orang tuanya menolak orang yang</p>
<p><span id="more-73"></span>melamarnya, dengan alasan madih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi, atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa tahun. Apa hukumnya ? Apa nasihat Syaikh bagi orang-orang yang melakukannya, bahkan ada wanita yang sudah mencapai usia 30 tahun atau lebih belum menikah ?</p>
<p><strong>Jawaban.</strong></p>
<p>Nasehat saya kepada semua pemuda dan pemudi agar segera menikah jika ada kemudahan, karena Nabi Shallallau ‘alaihi wa sallam telah bersabda.</p>
<p><strong><em>“Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kesucian farji ; dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai baginya”.</em> </strong>[Muttafaq 'Alaih]</p>
<p>Sabda beliau juga.</p>
<p><strong><em>“Artinya : Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar, maka kawinkanlah ia ( dengan putrimu), jika tidak niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini”. </em></strong>[Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, dengan sanad Hasan]</p>
<p>Sabda beliau lagi.</p>
<p><em><strong>“Artinya : Kawinkanlah wanita-wanita yang penuh kasih sayang lagi subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan menyaingi ummat-umat lain dengan jumlah kalian pada hari kiamat kelak”.</strong></em></p>
<p>Menikah juga banyak mengandung maslahat yang sebagiannya telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti terpalingnya pandangan mata (dari pandangan yang tidak halal), menjaga kesucian kehormatan, memperbanyak jumlah ummat Islam serta selamat dari kerusakan besar dan akibat buruk yang membinasakan.</p>
<p>Semoga Allah memberi taufiqNya kepada segenap kaum Muslimin menuju kemaslahatan urusan agama dan dunia mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Dekat</p>
<p><strong>[Fatwa Syaikh Bin Baz di dalam Majalah Al-Da'wah, edisi 117]</strong></p>
<p><strong>[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq</strong>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=73&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/20/utamakan-menikah-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menjadi Pegawai Yang Amanah ?</title>
		<link>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/04/bagaimana-menjadi-pegawai-yang-amanah/</link>
		<comments>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/04/bagaimana-menjadi-pegawai-yang-amanah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 14:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADAB & PERILAKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmannawwaf.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH ? Menjaga Jam Kerja Untuk Kepentingan Pekerjaan Oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad MUKADIMAH Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas penyempurna dan pelengkap agama dan penghulu para rasul serta imam orang-orang yang bertaqwa nabi kita, Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=55&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH ? Menjaga Jam Kerja Untuk Kepentingan Pekerjaan</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad</p>
<p><span id="more-55"></span><br />
<strong>MUKADIMAH</strong><br />
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas penyempurna dan pelengkap agama dan penghulu para rasul serta imam orang-orang yang bertaqwa nabi kita, Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba’du</p>
<p>Ini adalah risalah singkat berupa nasihat untuk para pegawai dan karyawan dalam menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Aku menulisnya dengan harapan agar mereka mendapat manfaat darinya, dan supaya mambantu mereka untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka. Aku memohon kepada Allah agar semua mendapatkan taufik dan bimbingan-Nya.</p>
<p><strong>[1]. AYAT-AYAT MENGENAI KEWAJIBAN MENUNAIKAN AMANAH</strong></p>
<p>Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla.</p>
<p><em><strong>“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. </strong></em>[An-Nisa : 58]</p>
<p>Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu”</strong></em></span> [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnan]</p>
<p>Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat”.</p>
<p>Dan firman-Nya.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” </strong></em></span>[Al-Anfal : 27]</p>
<p>Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang tidak terkait dengan orang lain) dan muta’addi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, “Dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian”. Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah ( yang wajib), Allah berfirman : “Janganlah kamu mengkhianati” maksudnya : janganlah kamu merusaknya”. Dan dalam riwayat lain ia berkata, “(Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, “(Yaitu) dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya”.</p>
<p>Dan firman-Nya.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”</strong></em></span> [Al-Ahzab : 72]</p>
<p>Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah, diantaranya ketaatan, kewajiban, din (agama), dan hukum-hukum had, ia berkata, “Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya. Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.</p>
<p>Firman Allah Ta’ala.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji”</strong></em></span> [Al-Mukminun : 8]</p>
<p>Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Tanda munafik ada tiga : apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat”.</strong></em></span></p>
<p>Dalam riwayat lain.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji”.</strong></em></span></p>
<p><strong>[2]. HADITS-HADITS TENTANG MENUNAIKAN AMANAH</strong></p>
<p>Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban menjaga amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah sebagai berikut.</p>
<p>Hadits Pertama.<span style="color:#008000;"><em><strong><br />
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat”</strong></em></span> [Diriwayatkan Al-Bukhari]</p>
<p>Hadits Kedua<br />
Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, <span style="color:#008000;"><em><strong>“Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu”</strong></em></span> [Diriwayatkan oleh Abu Dawud 3535 dan At-Tirmidzi 1264, ia berkata, “ini adalah hadits hasan gharib”. Lihatlah, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 424]</p>
<p>Hadits Ketiga<br />
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, <span style="color:#008000;"><em><strong>“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah shalat” </strong></em></span>[Diriwayatkan oleh Al-Khara-ithi dalam Makarimil Akhlak hal. 28. Lihat, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 1739]</p>
<p>Hadits Keempat.<br />
<span style="color:#008000;"><em><strong>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat” </strong></em></span>[Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p><strong>[3]. PEGAWAI YANG MENUNAIKAN PEKERJAANNYA DENGAN IKHLAS MENDAPAT BALASAN DUNIA DAN AKHIRAT</strong></p>
<p>Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat. Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada-Nya pahala yang besar”</strong></em></span> [An-Nisa : 114]</p>
<p>Imam Bukhari (55) dan Imam Muslim (1002) telah meriwayatkan dari Abu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p><span style="color:#008000;"><strong><em>“Artinya : Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu baginya adalah sedekah”.</em></strong></span></p>
<p>Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di mulu istrimu”</strong></em></span> [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Nash-nash ini menunjukkan bahwasanya seorang Muslim apabila ia menunaikan kewajibannya terhadap sesama hamba lepaslah tanggung jawabnya, dan bahwasanya ia hanya akan mendapatkan balasan dan pahala dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p><strong>[4]. MENJAGA JAM KERJA UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN</strong></p>
<p>Wajib atas setiap pegawai dan pekerja untuk menggunakan waktu yang telah dikhususkan bekerja pada pekerjaan yang telah dikhususkan untuknya. Tidak boleh ia menggunakannya pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut. Dan tidak boleh ia menggunakan waktu itu atau sebagian darinya untuk kepentingan pribadinya, atau kepentingan orang lain apabila tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ; karena jam kerja bukanlah milik pegawai atau pekerja, akan tetapi untuk kepentingan pekerjaan yang ia mengambil upah dengannya.</p>
<p>Syaikh Al-Mu’ammar bin Ali Al-Baghdadi (507H) telah menasihati Perdana Menteri Nizhamul Muluk dengan nasihat yang dalam dan berfedah. Di antara yang dikatakannya diawal nasihatnya itu.</p>
<p>“Suatu hal yang telah maklum hai Shodrul Islam! Bahwasanya setiap individu masyarakat bebas untuk datang dan pergi, jika mereka menghendaki mereka bisa meneruskan dan memutuskan. Adapun orang yang terpilih menjabat kepemimpinan maka dia tidak bebas untuk bepergian, karena orang yang berada di atas pemerintahan adalah amir (pemimpin) dan dia pada hakikatnya orang upahan, ia telah menjual waktunya dan mengambil gajinya. Maka tidak tersisa dari siangnya yang dia gunakan sesuai keinginannya, dan dia tidak boleh shalat sunat, serta I’tikaf… karena itu adalah keutamaan sedangkan ini adalah wajib”.</p>
<p>Di antara nasihatnya, “Maka hiudpkanlah kuburanmu sebagaimana engkau menghidupkan istanamu” [1]</p>
<p>Dan sebagaimana seseorang ingin mengambil upahnya dengan sempurna serta tidak ingin dikurangi bagiannya sedikitpun, maka hendaklah ia tidak mengurangi sedikitpun dari jam kerjanya untuk sesuatu yang bukan kepentingan kerja. Allah telah mencela Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang) dalam timbangan, yang menuntut hak mereka dengan sempurna dan mengurangi hak-hak orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.</p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah oran-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”</span></em></strong> [Al-Muthaffifin : 1-6]</p>
<p><strong>[5]. KRITERIA-KRITERIA MEMILIH PEKERJA DAN PEGAWAI</strong></p>
<p>Landasan dalam memilih seorang pegawai atau pekerja hendaklah ia seorang yang kuat lagi amanah. Karena dengan kekuatan ia sanggup melaksanakan pekerjaan yang diembankan kepadanya, dan dengan amanah ia menunaikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan amanah ia akan meletakkan perkara-perkara pada tempatnya. Dan dengan kekuatan ia sanggup menunaikan kewajibannya.</p>
<p>Allah telah memberitakan tentang salah seorang putri penduduk Madyan bahwasanya ia berkata kepada bapaknya tatkala Musa mengambilkan air untuk keduanya.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja kepada kita. Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” </strong></em></span>[Al-Qashash : 26]</p>
<p>Dan Allah berfirman tentang Ifrit dari bangsa Jin yang mengutarakan kesanggupannya kepada Sulaiman Alaihissalam untuk mendatangkan singgasana Balqis.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu ; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”</strong></em></span> [An-Naml : 39]</p>
<p>Maknanya, ia menggabungkan antara kemampuannya untuk membawa dan mendatangkannya serta menjaga apa yang dibawanya.</p>
<p>Allah juga telah menceritakan tentang Yusuf Alaihissalam bahwasanya ia berkata kepada raja.</p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">“Artinya : Jadikanlahlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”</span></em></strong> [Yusuf : 55]</p>
<p>Lawan dari kuat dan amanah adalah lemah dan khianat. Dan itu alasan untuk tidak memilih seseorang dalam bekerja dan sebab-sebab sebenarnya untuk mecopotnya dari pekerjaan.</p>
<p>Tatkala Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai gubernur Kufah, dan sebagian orang-orang jahil negeri itu mencelanya di sisi Umar, maka Umar memandang maslahah dengan mencopotnya dari jabatan untuk menjaga dari terjadinya fitnah dan agar tidak seorangpun dari mereka mengganggunya. Akan tetapi Umar ketika sakit menjelang wafatnya telah menentukan enam orang shahabat Rasulullah yang dipilih dari mereka seorang yang akan menjabat khalifah setelahnya. Di antara mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, lantas Umar khawatir bahwa pencopotannya dari jabatan gubernur Kufah disangka karena ketidaklayakannya memimpin, maka umar menepis prasangka tersebut dengan perkataannya, “Jika kepemimpinan jatuh kepada Saad, maka dia layak untuk itu. Dan jika tidak hendaklah siapa pun dari kalian yang menjadi pemimpin meminta bantuannya, karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya karena kelemahan dan khianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari : 3700]</p>
<p>Dan didalam Shahih Muslim : (1825)<br />
Dari Abu Dzar, ia berkata, <strong><em><span style="color:#008000;">“Aku berkata, ‘Hai Rasulullah! Tidaklah engkau memperkerjakan aku?’ Ia berkata, ‘Maka beliau menepuk pundakku dengan tanggannya kemudian bersabda, ‘Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya pekerjaan itu adalah amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari Kiamat kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban padanya”.<br />
</span></em></strong><br />
Dalam riwayat lain di Shahih Muslim (1826)<br />
Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu lemah dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang kucintai untuk diriku, janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan janganlah sekali-kali engkau mengurus harta anak yatim”.</p>
<p><strong>[6]. ATASAN ADALAH TELADAN BAGI BAWAHANNYA DALAM BERSUNGGUH-SUNGGUH ATAU MALAS</strong></p>
<p>Apabila para atasan pegawai melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka dengan sempurna, pegawai-pegawai yang menjadi bawahannya akan mecontoh mereka. Dan setiap pemimpin dalam suatu pekerjaan akan diminta pertanggung jawabannya terhadap dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.<br />
<strong><em><span style="color:#008000;">“Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang memimpin manusia, ia memimpin mereka dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang mereka, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan ia akan diminta pertangung jawabannya tentang mereka, dan seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya, dia akan diminta pertanggung jawabannya tentang mereka dan seorang budak pemimpin atas harta tuannya dan dia akan diminta pertanggung jawabannya terhadapnya, ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya”</span></em></strong> [Diriwayatkan Al-Bukhari ; 2554 dan Muslim : 1829 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma]</p>
<p>Dan apabila para atasan menjaga pekerjaan-pekerjaan dalam segala waktu-waktunya, mereka akan menjaga teladan yang baik bagi orang-orang yang mereka pimpin.</p>
<p>Seorang penyair berkata.</p>
<p>“Dan engkau selama melakukan yang engkau perintahkan<br />
niscaya orang yang engkau perintahkan melakukannya”.</p>
<p>Maknanya, apabila engkau memerintahkan orang lain dari bawahanmu agar melakukan kewajibannya, dan engkau terlebih dahulu menunaikan kewajiban, maka sesungguhnya orang yang selainmu akan mematuhimu dan melaksanakan apa yang engkau perintahkan kepadanya.</p>
<p><strong>[7]. PERLAKUAN PEGAWAI KEPADA ORANG LAIN SEPERTI APA IA INGIN DIPERLAKUKAN.</strong></p>
<p>Nasihat memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam, oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">“Artinya : Agama adalah nasihat’, kami berkata, ‘Untuk siapa?’, Beliau bersabda, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta sesama mereka”</span></strong></em> [Diriwayatkan oleh Muslim 55 dari Abu Tamim bin Aus Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhu]</p>
<p>Dan berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajali Radhiyallahu anhu, “Aku telah berba’iat kepada Rasulullah atas mendirikan shalat, membayar zakat dan menasihati untuk setiap Muslim” [Diriwayatkan Al-Bukhari 57 dan Muslim 56]</p>
<p>Sebagaimana seorang pegawai atau karyawan apabila ia punya kebutuhan pada yang lain, orang lain itu wajib memperlakukannya dengan mu’amalah yang baik. Maka wajib pula atasnya untuk memperlakukan orang lain dengan mu’amalah hasanah (perlakuan yang baik).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.</p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">“Artinya : Maka barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api nereka dan masuk surga, hendaklah ia meninggal sedang ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan” </span></em></strong>[Diriwayatkan oleh Muslim]</p>
<p>Dalam hadits yang panjang dari Abdullah bin Amr. Dan maknanya adalah perlakukanlah manusia sebagaimana engkau ingin diperlakukan.</p>
<p>Rasulullah bersabda.</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><strong>“Artinya : Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri”</strong></em></span> [Diriwayatkan Al-Bukhari 13 dan Muslim 45 dari Anas]</p>
<p>Allah Ta’ala telah mencela orang yang memperlakukan orang lain tidak seperti ia ingin diperlakukan dalam firman-Nya.</p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” </span></em></strong>[Al-Muthaffifin : 1-3]</p>
<p>Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">“Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, pelit dan rakus, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan membenci untuk kalian tiga perkara yaitu ; kata-kata omong kosong, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta”</span></em></strong> [Diriwayatkan Al-Bukhari 2408 dan Muslim 593 dari Al-Mughirah bin Syu’bah]</p>
<p>Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap yang rakus lagi pelit, yang mengambil dan tidak memberi.</p>
<p>Allah telah mngingatkan wali-wali anak-anak yatim bahwasanya mereka khawatir terhadap anak keturunan mereka yang kecil-kecil kalau mereka tinggalkan. Allah berfirman.</p>
<p><em><strong><span style="color:#008000;">“Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” </span></strong></em>[An-Nisa ; 9]</p>
<p>Maknanya, sebagaimana mereka ingin anak-anak keturunan mereka nantinya diperlakukan dengan baik, maka wajib atas mereka untuk berlaku baik terhadap anak-anak yatim yang mereka menjadi wali atasnya.</p>
<p>[Disalin dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Penerbit Darul Falah, Jakarta 2006]<br />
_________<br />
<strong>Foote Note<br />
[1]. Dzailul Thabaqat Al-Hanabilah oleh Ibnu Rajab (1/107)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salmannawwaf.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salmannawwaf.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salmannawwaf.wordpress.com&amp;blog=14995544&amp;post=55&amp;subd=salmannawwaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmannawwaf.wordpress.com/2010/08/04/bagaimana-menjadi-pegawai-yang-amanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db3f7d633d550a1eeb7bd6c4bcc3a58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">salman100410</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
